Monday, 21 October 2019

Article - Tantangan dan Curhat menjadi Sandwich Generation

By Aliyah Natasya

Di era keterbukaan informasi seperti ini, saya sangat menghargai dengan keterbukaan atas sharing curhat di dunia sosial media. Sebagai salah satu sismin di akun IG @investashe_ sering loh mendapat curhatan dari para perempuan terkait isu Sandwich Generation.

Apa iya sandwich generation itu baru tumbuh sekarang ini? Apa iya sebegitu susah hidupnya menjadi bagian dari sandwich generation? Apa iya segitu nelangsa dan pedihnya kalau harus jadi sandwich generation.

Terminologi sandwich generation ini mulai naik daun semenjak krisis global 2008 namun di Indonesia sendiri terjadi sejak kenaikan pasar properti yang luar biasa terjadi sejak 2013 lalu.

Tiba-tiba harga tanah dan rumah di Jabodetabek meningkat luar biasa. Lalu muncullah Headline News dengan topik tentang kesulitan para millenial untuk membeli rumah, gaji yang tidak memadai untuk kehidupan apalagi membeli rumah. Dan muncullah, kehidupan para millenial yang sudah berumah tangga tapi tinggal dalam satu atap dengan orangtua.

Tapi dari pengalaman dan kacamata aku sih ya, di Indonesia Sandwich Generation itu sudah bagian dari budaya yang ada. Budaya kita menganut paham bakti kepada keluarga, terutama orangtua. Sementara di Barat sana, menganut paham independency, kemerdekaan dan individualisme. Sedari kecil kok sudah sering mendengar beberapa keluarga dari teman tetap tinggal dengan nenek kakeknya. And it was not a big deal. The biggest deal itu adalah bagaimana untuk mengumpulkan uang yang cukup dan menghadapi tantangan Sandwich Generation.

Tantangan Pertama, adalah wishlist kehidupan yang maksimalis. Jamannya tuh beda, ketika zaman dicukupkan dengan sandang, pangan, papan. Sekarang sandang nya udah harus #OOTD alias Outfit of The Day, Pangan nya pun harus makanan sehat dari Shirataki sampai Ketogenic Diet. Dulu ke dokter cukup dengan penyakit flu sampai DBD. Sekarang sampai ke Dokter Kulit dan Dokter gizi yang antriannya bisa berbulan-bulan. Kalau dulu cukup lari dan SKJ 88, sekarang ada Yoga, Pilates plus HIIT yang hadir di klub-klub olahraga hits di ibukota.

Tantangan Kedua, mahalnya biaya hidup. Bukan masalah standar gaya hidup yah, tapi apapun biaya alias harga-harga yang ada sekarang udah naik ratusan hingga ribuan persen dibanding jaman orangtua kita. Di awal 90an Mcdonald’s baru hadir di Jakarta, saya masih bisa menikmati satu hamburger dengan harga dibawah Rp 1.000. Ataupun harga Teh Botol di era itu yah masih Rp 50 atau Rp 100,-. Ketika kalau ke Mall di tahun 1995an dengan Rp. 10.000 aku masih bisa makan, beli kaset dan main Ding Dong.

Tantangan Ketiga, aktualisasi dan eksistensi. Keinginan kita untuk memaksimalkan intelektualitas dan keberadaan diri sudah menjadi kebutuhan. Dari berbagai pose selfies hingga beragam event (konser, launching produk, kelas belajar) yang hadir memberikan diri kita kesempatan untuk memperkaya ilmu dan pengalaman. Of course, harganya gak murah! Then again, ritual FOMO alias Fear of Missing Out semakin memperkeruh biaya hidup dan kebingungan untuk menyiasatinya.

It was not an easy situation. Everybody will not be happy if they have must shared, if they have sacrifice their happiness to fulfill somebody else’s life.

Curhatan pertama adalah curhat tidak adilnya dunia. Di sisi inilah curhatan akan ketidak adilan hidup itu akan muncul. Kenapa sudah susah payah kerja terus harus berbagi, menyisihkan. Kenapa gue harus menanggung ortu, sedangkan temanku malah di tanggung ortunya. Dan kejamnya dunia memungkinkan bukan hanya orangtua kamu saja yang harus ditanggung hidupnya, tapi juga sampai saudara belum mampu hidup mandiri.

Curhatan kedua adalah dari para anak yang paling sukses. Sukses disini terutama sukses secara finansial. Bukan keharusan tetapi rasanya seperti ada hukum tidak tertulis, yang paling sejahtera harus memberikan tunjangan yang besar disertai fasilitas yang mumpuni. Duh, kalau memberikan uang seadanya atau bahkan tidak sama sekali, cap pelit dan tidak berbakti pasti langsung hinggap di kita. Sounds familiar?

Curhat itu wajar, manusiawi banget. Tapi mau sampai kapan curhatnya. Mau curhat kemana lagi. Sebagai perempuan memang kita lebih lega rasanya kalau sudah share dan melepas keluh kesah. Semua hal yang berhubungan dengan hidup kita, keputusannya juga ada di kita kok.

How we handle our own problem and how do we want to deal with our lives, everything is up to us!

Ada masa dimana, saya juga mengandaikan kehidupan yang nyaman tanpa terbebani masalah orang lain atau kehidupan orang lain. Ada rasa bingung, kenapa manusia suka sekali menggantungkan kehidupannya dengan orang lain. Apa yang ada dipikirannya ya, kok bisa-bisanya nyusahin orang lain? Kok cuma memikirkan hal yang baik untuk dirinya dan ketika susah dia bisa-bisanya mencari atau menyalahkan orang lain! And it keep repeating for so many times!

Belajar ikhlas dan kompromi akan keadaan bukan hal yang mudah. I tried to make peace with myself. Bagian akhir dari refleksi saya adalah mengikhlaskan kalau hidup itu hanya titipan. Yes, for Fear of Missing Out. Ketakutan akan kehilangan sesuatu, dan saya lebih takut lagi jika saya kehilangan waktu dengan mensupport apa yang saya bisa untuk keluarga saya. Saya mencoba untuk lebih positif dengan apa yang bisa saya lakukan untuk mereka.

Fear of missing out if I had not enough time for my family, my time for parents, my capabilities to make my parents happy and proud. Fear of Missing out what kind of act that I should have done it to people who matter most in my life.

Tanya ke diri kamu, jika bukan kamu yang melakukan dan mensupport keluarga ini. Siapa yang akan membantu kehidupan mereka? Adakah bala bantuan atau keluarga lain yang bisa diajak bekerja sama as a team, bukan menyerahkan ke satu pihak. WORK AS A TEAM WITH YOUR FAMILY. Kalau memang kamu anak tunggal, work as a team with your parent dan support seperti apa yang mereka butuhkan. We are all human, we cannot lives alone and is okay to call for help.

Yes, I can understand it is tough world out there, but being a sandwich generation is not the end of world, you can look here.. Jangan terlalu khawatir ataupun merasa jadi victim jika kamu memang part of sandwich generation. Jika hal ini sampai mengganggu pikiran mu, maka do something, cari solusi dan bagaimana menyelesaikan hal ini bersama dengan keluarga lainnya. Ingat, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.