Monday, 15 July 2019

Smart Investor - You Buy Peanut, You Get Peanut

By Aliyah Natasya
pic from unsplash by Maksim Shutov


Karena di luar sana, banyak manusia yang berharap bisa mendapat kualitas premium dengan harga kacangan

Siang itu saya diberi kesempatan untuk ngobrol langsung dengan founder minuman ringan boba ala-ala yang dalam setahun berhasil mencapai omzet miliaran rupiah.

Salah satu tantangan berat dalam membangun bisnis ini adalah menemukan “manusia-manusia yang tepat untuk diajak berbisnis”. Diajak membangun bisnis. Ingat ya, membangun bukan tiba-tiba sukses langsung jadi. Bukan semacam proyek Loro Djonggrang

Untuk teman-teman yang sukses dapat kerjaan di perusahaan multinasional ataupun Unicorn Lokal pasti sudah berada di zona nyaman. Mereka menikmati rutinitas, kenyamanan akan gaji dan benefit. Mereka jugalah pasti yang memiliki level intelektual dan IPK tinggi-tinggi berhasil menyaring puluhan ribu pelamar kerja dan berhasil dapat posisi di Perusahaan bergengsi itu.

Lalu, adalah para pebisnis dengan jiwa ingin melakukan sesuatu, berkontribusi langsung ke masyarakat dan make our name alias jadi pebisnis sukses. Tantangan pertama adalah ya itu tadi, menemukan talent alias Sumber Daya Manusia yang pintar, memiliki etos kerja tinggi, mau maju dan punya social skills yang oke.

Terbenturlah dengan kondisi bisnis yang sedang membangun. Terganjal dengan modal, terseok-seok mencari nama dan yang harus disesuaikan dengan budget yang ada.

Disinilah pelajaran paling berharga, “You buy peanut, you get peanut.” Maksudnya disini kalau kita membayar seharga kacang, yah sudah pasti kualitas nya kacangan. Mana mungkin sih ya, harga kacang tapi kualitas premium. Sejujurnya, susah banget menemukan manusia yang kualitas nya oke tapi mau digaji rendah. Itu sama aja kaya kita kasih makan kuda arab, kacang. Dia akan kelaparan dan merasa kalau dia ada di ekosistem yang salah.

pic from pexels by Right Light

Isu masalah bayaran harga kacang-kacang an oni juga yang menjadi keluh kesah sebagai para bisnis rintisan. We are all in the process of growing our business. We need to generate income. However, people out there wants the lowest price as possible. Untuk tawar menawar invoice sih oke-oke aja, tapi yah minta sesuatu yang “fair”.

Banyak temen di luar sana yang terpaksa menerima harga murah, yang menurut ku di bawah standar market. Boleh saja kasih harga perkenalan, tapi jangan lupa di mention kalau ini bukan harga standar yah. Jangan lupa bilang “PS : ini harga one time only.”

Kemarin temen ex-lawyer saya juga cerita, terkait translation ada aja klien yang minta untuk translation yang “ada modifikasi” berbeda dalam hasil terjemahan Bahasa Indonesia. Untuk masalah kode etik seperti ini, dia langsung “Say No”. Tolong diingat, nama dan reputasi itu melekat seumur hidup di perjalanan karir kamu. Jadi yah, jangan di hancurkan oleh satu request klien. It is better to loose one client than loosing your reputation.

Seperti yang dibilang Warren Buffet

It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently.”

Bukan cuma pebisnis loh yang merasa sedih dengan harga kacang-kacangan. Banyak juga para pekerja kantoran yang merasa gajinya tidak sepadan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Ngerti banget kalau manusia memang merasa gak pernah puas dengan gajinya. Tapi ada beneran yang bekerja dengan baik, kasih kinerja dan memberikan kontribusi laba yang signifikan tetapi tidak di apresiasi dengan baik oleh perusahaannya.

Tawar menawar harga kacang ini juga berlaku untuk nego-nego gaji. Some people may look good in paper, yet they can not promise to deliver the expectation. They might looked very well presentable but they might not executed very well. Ini mah lebih sedih lagi, harga premium tapi hasil mengecewakan.

Anyway, kita semua punya standar hidup masing-masing. Seharusnya kita tahu dimana kita berdiri, dimana kemampuan kita dan disitulah harga kita. Kalau masih tidak pede dengan your worth value, kamu bisa tanya orang-orang terdekat kamu atau cek toko sebelah alias kompetitor.

Untuk yang sedang membangun tim bisnisnya, jangan terpaku dengan budget atau terpaksa menghemat sampai ke arah pelit. Ada banyak efek buruk dengan menerima karyawan apa adanya, bisnis kamu juga jadinya apa adanya, malah berujung gak bisa kemana-mana dan malah kamu yang pusing ngurusin kerjaan orang lain juga.

Intinya sih kita harus fair and be supportive with small businesses.