Monday, 30 December 2019

Article - Financial Wellness for 2020

By Aliyah Natasya

pic from Pexel by Daria Obymaha

Di penghujung tahun 2019, kita sibuk membuat resolusi untuk 2020. Banyak yang menelaah melihat ke belakang apa saja yang sudah terjadi satu tahun belakangan ini, lima tahun bahkan lagi #trendingtopic di berbagai stories dan caption tentang perjalan 1 dekade terakhir alias 10 years journey.

“Life itself is a long journey, a book with so many chapters that you can not fast forward. You just have to follow the pace and play it the way you perceive your end of journey.

Di 2019, Investashe diberi banyak kesempatan. Masih banyak kekurangan dan hal yang masih perlu dipelajari. Kita masih mau mencoba, kita masih mau berusaha dan kita masih ingin hadir memberikan warna dalam literasi keuangan.

Finansial menjadi topik seru dan informasi menarik terkait untuk millenials. Tapi seiring perjalanan membagikan edukasi keuangan ternyata uang bukan hal utama atau prioritas hidup. Bagi sebagian orang prioritas utama bukanlah uang. Kebahagiaan untuk membahagiakan orang lain, arti hidup tentang berbagi, kebaikan untuk menolong, membuat senyuman akan kebanggan merupakan prioritas hidup dan bisa jadi misi hidup bagi sebagian orang.

“It is good to have money and the things that money can buy, but it is a good too, to check up once in a while and make sure you have not lost the thing that money can buy.” George Horace Latimer

Kalimat sesederhana itu bisa mengubah persepsi akan uang. Yes, I agree in some conditions money may bring happiness. But then again, it would be useful if we don’t make our loved ones happy throughout their lives.

Untuk urusan uang biasanya saya cukup strict dengan budget yang sudah saya alokasikan. Tapi Oktober 2019, kemarin saya ingin sedikit memberi hadiah untuk Ibu saya. Sempat panjang terpikir dan terus berpikir dengan pertanyaan-tanyaan berikut, “kalau uang nya habis bagaimana? Kalau uangnya gak datang lagi gimana? Kalau saya bulan depannya jadi kesel karena gak ada duit bagaimana?”

Perlahan, pertanyaan itu saya ganti dengan “Bagaimana kalau hanya sekarang ini kesempatan membahagiakan Ibu diberikan? Bagaimana kalau tahun depan Ibu sudah tidak sesehat sekarang? Kapan lagi Ibu akan bisa berlibur dengan cucu-cucunya.”

Keputusan saya akhirnya, memberikan hadiah liburan kepada Ibu terlaksana. Masihkah saya menghitung dan merengut karena uang saya berkurang? Tentu tidak! Saya malah mendapat banyak tawaran kerjaan, walau kecil tapi lumayan hingga akhir tahun ini.

Salah seorang teman berujar, “Uang itu bisa tetap dicari, gak akan pernah kurang rejeki. yang kurang itu kerja kerasnya!” Sejak malam itu, aku berjanji bekerja lebih keras, fokus akan my grand big goal 5 tahun ke depan. Tidak usah dipusingkan hal-hal yang sebenarnya gak bikin pusing.

“All we need sometimes a simple slap in our face to work harder. Stop complaining and just keep focus on what we should have doing.”

Ke depannya uang itu bukan fokus utama untuk menjadi masalah, beban pemberat dan halangan untuk tidak melakukan panggilan hati mu. “Money is supporting tools”!

Menjalani hidup jauh lebih terasa berat dengan menghitung segala sesuatu. Angka dalam uang itu seharusnya membantu kamu untuk lebih kreatif dalam menikmati sesuatu dalam hidup. Uang itu alat tukar, alat tukar dari hasil kerja keras untuk menikmati hidup.

Banyak orang memiliki uang banyak tanpa menyeimbangkan kehidupan serta kebahagiaannya. I am not gonna be like them.

Let’s try to be happy with our life at the moment. Happiness attract more happiness. The rules of the game have changed. Let’s be happy with our money and be happy to take control on our money. Do not worry to much, give our permission to make failures, enjoy the lessons and worry less. We’ve earned it. Let’s be financial mindful!