Wednesday, 1 January 2020

Article - Financial Wellness #1 – Stop Overthinking

By Aliyah Natasya

Selamat tahun baru! Let’s start our financial wellness resolution. Pokoknya tahun 2020 ini kita akan belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dan BAHAGIA! Salah satunya adalah untuk stop overthinking. Berhenti untuk kebanyakan berfikir, memikirkan sebab akibat dan turunannya. STOP. Check this site Femme-Fontaine-Sexy.com

picture from Pexels by Pixabay

Kita kan tetap haru berpikir dan mengambil keputusan terbaik untuk hidup kita. Saya termasuk orang yang suka berpikir tiada akhir, hal ini jujur sangat bikin suami saya lelah dan kesal. I am OVERTHINKER. Misal, mau makan ke mana? Ke resto A aja. Di resto mau makan apa? Parkirannya susah atau enggak? Kalau abis itu kita mau ngopi, resto A jauh dari tempat kopi, kalau gak dapat area non smoking gimana? kalau ternyata chef nya bukan si Rudi lagi Chef yang lain belum tentu enak, kalau kalau kalau… dan kalau selanjutnya, sehingga akhirnya kita memutusukan, “ya udah di rumah aja.”

Bentuk dari overthinking bukan hanya dalam mengambil keputusan saja, tapi bisa juga dari mencoba menyimpulkan kejadian, mencoba membaca pikiran orang, berusaha berpikir tentang masa depan dengan 5 skenario, memikirikan hal-hal kecil dan too much detail bahkan memikirkan kesalahan yang bisa terjadi setelah mengambil keputusan.

YANG SEBENERNYA SEMUA NYA BELUM TENTU KEJADIAN.

Lelah memikirkan apa yang seharusnya terjadi, apa yang sebaiknya terjadi, kejadian apa yang bisa terjadi setelahnya, sungguh melelahkan jika pikiran kita terus berpikir hal-hal yang terus seperti itu. Untuk manusia dengan overthinking yang akut, hal ini bisa membuat mereka sampai ke tahap insomnia dan depresi.

Depresi yang muncul dari ketidakbahagiaan, karena terlalu mencemaskan kejadian yang tidak atau belum terjadi sehingga tidak bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka bisa lupa untuk menikmati kebahagiaan yang sedang berlangsung atau bahkan mereka tidak tahu ada kebahagiaan di depan mata.

Sejujurnya beberapa teman mulai overthinking terkait finansial. Memang informasi finansial dan investasi sudah membantu kita untuk melek dan sadar pentingnya untuk mempersiapkan finansial terutama untuk masa depan. Tetapi untuk para overthinker, hal ini bikin mereka lebih takut dan tidak bisa enjoy dengan hidup mereka.

Budget sudah di buat, rencana alokasi keuangan juga sudah cantik kok ilustrasinya. Tetapi mereka ini sangat khawatir jika rencana finansial tidak sesuai skenario. Mereka takut menghadapi apa yang terjadi di masa depan. Padahal, semua masih aman terkendali dan keadaan masih baik-baik saja.

“We need to learn to adapt and re-adjust”

Bagaimanapun hidup akan selalu menghadirkan beberapa pilihan hidup. Finansial Planning seharusnya membantu kamu lebih disiplin dan termotivasi untuk mencapai goal impian kamu. Bukan untuk bikin takut, bukan untuk tidak boleh spending, bukan untuk bikin depresi ataupun membanding-bandingkan hidup kamu dengan orang lain.

Ini cara kita melatih otak kita untuk berpikir lebih sehat dan simpel.

Pertama, kita perlu melatih cara berpikir dan cara kita memandang hidup. Kalau ketakutan itu terus menjadi pikiran pertama yang muncul, begitu muncul kita harus memberhentikan pikiran buruk itu. Misal, kita memikirkan kalau pensiun nanti kita hidup numpang di rumah anak kita. Nah, kita bisa ganti dengan pikiran kita tinggal bersama di rumah yang sama dengan anak kita, bisa bermain dengan cucu-cucu dan kita memiliki menantu idaman. (AMIIN).

Kedua, coba di cek deh. Dari seratus pikiran negatif beserta kekhawatirannya, berapa yang benar-benar terjadi nyata di hidup kamu? Berapa angka probabilitas dari proyeksi kekhawatiran yang melanda hidup kamu? kalau dari 10 pikiran buruk yang terjadi hanya 1 -2 kali, kamu seharusnya 80 persen bisa menikmati hidup.

Ketiga, belajar membuang pikiran negatif itu dengan menulis. Writing is one kind of therapy. Dengan menulis, kita menuangkan pikiran negatif itu. Tulis semua pikiran, prasangka dan hal-hal buruk dan kamu akan menyadari semua itu hanya persepsi yang muncul di otak. Bukan kejadian sebenarnya.

Beri waktu untuk diri kamu ruang untuk mencari hal-hal yang positif. Positivity is contagious. Dibutuhkan latihan untuk Anda tidak berlarut-larut dalam emosi dan memilih untuk melakukan sesuatu dalam kehidupan nyata daripada menghabiskan banyak waktu di berpikir dan menguras kinerja otak dan perasaan kamu.

And overthinking mind can destruct your life, you owe your life, yourself a wonderful life, starts with wonderful thoughts.